Kisah Mahasiswa Dicerca Hobby Alay, Kini Siap Luncurkan Buku Kumpulan Puisi

  • Whatsapp
Musafar Ukhba Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Halu Oleo dengan buku antologi puisi Tiga Menguak Lapar, Rabu (17/1/2024). Foto : Rosmawati/Telisik
banner 468x60

SULTRAKU.COM, TELISIK.ID – Menciptakan sebuah karya tulisan bukan hanya prestasi yang membanggakan, terutama ketika karyamu memperoleh tempat dalam bentuk buku dan menjadi selera pembaca.

Namun, di balik peluncuran buku, seringkali tersimpan berbagai cerita menarik dari pengarang, seperti yang dialami oleh Musafar Ukhba.

Bacaan Lainnya

Musafar Ukhba, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik, Universitas Halu Oleo angkatan 2020, meneruskan warisan tradisi puisi dengan karyanya yang mencengangkan.

Meskipun masih sebagai mahasiswa, karya puisi Musafar telah merambah dunia penerbitan dalam bentuk buku antologi puisi. Sebagai putra bungsu dari tiga bersaudara yang lahir pada tahun 2002 di Muna Barat, karya tulisannya kini dikenal di kalangan mahasiswa.

Seperti bukunya yang pertama berjudul “Tiga Menguak Lapar” yang memuat kumpulan puisi dari Musafar dan penulis lainnya, begitu juga dengan buku keduanya yang berjudul “Cerita Hutan Pinus”.

Namun, tak cukup sampai di situ, Musafar merajut mimpi diam-diam dengan 200 puisi yang tengah dirancang untuk dijadikan buku kumpulan puisi.

“Sudah ada 200 puisi saya tulis, sambil nabung juga biar bisa bukukan, rencananya sih kalau bisa di Gramedia,” tuturnya, Rabu (17/1/2024).

Kisah perjalanan ini bermula dari iseng menulis puisi di platform Kompasiana, yang akhirnya membuat Musafar semakin terperangkap dalam cinta dan ambisi terhadap puisi. Meskipun sering dicerca sebagai “hobby alay” Musafar dengan gigih tetap menjalankan hobinya tersebut.

Akun Kompasiana miliknya, yang dijuluki “Penaku” telah mencuri perhatian, dengan 99,882 viewers pada 17 Januari 2024. Puisi perdana berjudul “Aku Mati Sebagai Air Mineral” mendapat apresiasi dengan 472 viewers. Puisi lainnya, seperti “Seperti Kiamat” menuai komentar positif.

“Mantap. Penuh dengan nasehat diri, salam sehat selalu dan selalu berkarya,” tulis Pakde Amin dalam komentarnya

Tak mengherankan, puisi Musafar bukan hanya menarik penggemar, tetapi juga memperlihatkan cintanya pada literasi. Sahabat karibnya, Wahyuda, mengungkapkan bahwa Musafar tidak hanya mencintai puisi, tetapi juga hobi membaca.

“Pernah dia membaca dari pagi sampai siang menjelang sore, dia mimisan, terus kalau dia mau nulis puisi selalu kita ajak pergi camping biar fresh otaknya mikir,” katanya.

Penulis: Rosmawati
Editor: Fitrah Nugraha

banner 300x600

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *